Ada apa di balik tayangan 86


Foto Biodata Briptu Eka Frestya Polwan Cantik 86 NET TV


Sebuah program Humas, hasil kerja sama antara polri dengan NET TV .
Ya Humas.... sebagai tayangan humas.
86 berhasil memikat publik sejak awal NET TV mengudara.
86 merupakan bentuk mutualisme yang paripurna, polri mendapat citra yang baik dan NET TV punya pengerek reting .
Lalu apa yang membuat 86 dapat menarik perhatian publik?
Dan apa dampak 86 pada cara kita memahami kepolisian?
Selepas reformasi kepolisian mendapat segudang citra yang buruk di tengah publik mulai dari kasus-kasus korupsi, hingga pungutan liar. 86 tampaknya hadir untuk mengembalikan citra baik kepolisian. Bagaimana citra baik ini dibangun?
86 menghadirkan polisi-polisi muda yang santun,ramah senyum,enak di pandang dan, punya bakat khusus seperti berceramah.
Seperti percakapan di bawah ini;
Polisi: "Orangtuanya dimana?"
Tersangka: "Masi Sama orangtua"
Polisi: "Masi sama orangtua tinggalnya tuh kan"
Polisi: " Nanti nyusahin orangtuanya lagi,iya nggak"
Polisi-polisi senior yang ditampilkan pun tampak berpengalaman ,ramah, punya bakat berceramah yang tak kalah hebatnya dengan polisi muda.
Percakapan;
Polisi: "apa yang mau kalian banggakan, dengan hidup seperti itu"
Karakter-karakter ini disatukan oleh cerita kepahlawanan polisi yang menyelamatkan warga dari kekacauan dan kejahatan. 86 penuh dengan adegan polisi yang menangkap bandar narkoba, menertibkan kekacauan di jalanan hingga menyelamatkan perempuan korban KDRT .
86 juga mengemas tiap adegan layaknya film action.
Dari gambar-gambar bergetar yang memacu adrenalin hingga musik yang disesuaikan dengan suasana adegan, menegangkan ataupun jenaka.
Selain itu,86 juga memiliki satu formula yang terus di ulang. Dalam setiap episodenya acara ini selalu mempermainkan orang "jahat" yang melanggar hukum.
Misalnya, pengendara mabuk dihukum polisi dengan push up atau menyanyikan lagu Indonesia raya.
Adegan-adegan ini ditampilkan dengan menggelikan, lengkap dengan musik latar yang jenaka. Formula ini menjalankan dua fungsi sekaligus.
Pertama,ia semacam gelanggang elektronik tempat orang-orang bersalah diarak dan dipermalukan sebagai bentuk kontrol sosial.
Kedua,dan yang paling penting 86 menunjukkan otoritas dan superioritas moral dari pihak yang memberikan hukuman, yaitu polisi.
Polisi dalam adegan 86 adalah figur yang memiliki otoritas dalam menilai salah dan benar dan punya kebijaksanaan untuk memberi sanksi pada pelanggaran, salah benar ini pun tidak selalu masalah hukum namun mencakup juga masalah norma dan moralitas konsekuensinya.
86 penuh dengan adegan polisi menghakimi orang-orang yang tidak melanggar hukum tapi melanggar norma dan moralitas yang dianut oleh si polisi.
Seperti dua sejoli yang sedang asyik menatapi langit malam.
Percakapan polisi 86 dengan dua sejoli tersebut;
Polisi: "hey, lagi ngapain?"
"Ngapain?"
(Bagitu tandasnya polisi)
Dua sejoli tadi sedang berbaring
pun kaget dengan serentak mereka duduk, kedatangan polisi dan para wartawan NET TV  sepertinya sangat menggangu.
Polisi berkata lagi; "coba ulang lagi saya pengen lihat".
Atau sekumpulan remaja berdandan silang-gender .
Percakapan polisi dengan remaja yang berdandan silang-gender ;
Polisi: "benar kamu asli perempuan?"
Polisi; "kok kayak laki-laki gini"
Remaja: "memang aku dari kecil gini pak"
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa alih menjadi aparat hukum (polisi) malah menjadi aparat moral.
Tak pelak lagi,86 dipenuhi dengan hujatan moral polisi terhadap warga yang bejat yang tampaknya hanya bisa di ekspresikan dengan satu kata:
"Kami sangat sayangkan"
"Yang kami sayangkan adalah"
"Sangat disayangkan sekali"
Dwifungsi aparat ini sangat bermasalah misalnya,86 sering menampilkan adegan polisi menceramahi perempuan yang keluar rumah di malam hari.
Adegan-adegan ini penuh dengan pernyataan seperti ini;
"Perempuan, sudah minuman keras"
"Mayoritas anak-anak tersebut adalah anak-anak perempuan yang berpenampilan laki-laki".
Padahal dalam adegan tersebut dari lima orang cuma dua perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki.
Pernyataan ini muncul karena polisi memposisikan diri sebagai aparat moral dengan asumsi normatif bahwa perempuan yang keluar malam itu bukan perempuan baik-baik atau bahwa perempuan itu lemah dan rentan sehingga keluar malam itu membahayakan dirinya.
Namun, sebenarnya perempuan yang keluar malam itu tidak melanggar hukum, polisi justru bertugas untuk membuat semua orang, apapun gender nya bisa beraktivitas secara aman selama 24 jam sejauh tidak melanggar hukum.
Ketika polisi menjadi aparat moral, polisi justru menjadi momok bagi warga yang semestinya ia lindungi karena ia bisa dihakimi meski ia tak melanggar hukum apapun.
86 mengajarkan kita bahwa persoalan salah benar bukan lagi soal hukum atau hati nurani melainkan siapa yang memakai seragam dan menenteng senjata api.


By:Mr.hasibuan




Komentar