Alam Raya?
![]() |
| Sumber foto pendidikan dasar LMND kota malang |
Kepada kawan-kawan yang budiman,
Draft pemikiran di tangan Anda berjudul “Perkenalkan,MDH(Materialisme-Dialektika-Historis) Senjata Filsafat Milik Kelas Tertindas” ini menjadi kebutuhan pokokuntuk memperkokoh fundasi ideologi perjuangan kita. Kenapa bahan ini semacam ‘sembako Perjuangan’, sebab ia membahas persoalan filsafat sebagai peralatan untuk berpikir radikal, komprehensif dan progresif yang memandu kita di setiap langkahp perjuangan. Penggunaan filsafat berpikir ini akan sangat menentukan cara pandang kita agar terhindar dari pemikiran yang spekulatif dan avonturistik. Cara pandang dalam filsafat ini adalah pisau tajam pengelupas alam pikir klenik (magis-mistis); cara berpikir yang banyak dipakai oleh kaum feodal di Abad Tengah yang penuh kegelapan itu. Tujuan penggunaan filsafat ini adalah pencerahan akal budi dan nurani kita untuk mempersenjatai diri melawan paham-paham milik kaum penghisap penindas.
Saya menamakan ini draft pemikiran sebab pembahasan ini masih banyak kelemahan.
Hal yang harus senantiasa diperbaharui khususnya adalah tafsir filsafat Marxist atas kondisi kontemporer yang terus bergerak dan berkembang. Bila tidak ditempa dalam konteks zamannya, ia menjadi dogma yang menjemukan. Maka dari itu masukan berupa kritik dan saran sangat dinanti untuk memperkokoh pemahaman kita. Akhir kata, bahan ini semoga bermanfaat bagi kita semua, kawan-kawan yang tak peduli dalam suka atau lara, ramai atau sepi, malam atau siang, 24 jam! senantiasa dalam agenda revolusi kelas internasional untuk
terciptanya keadilan sejati bagi landasan hidup kemanusiaan semesta.
1.Apakah Gerangan Filsafat?
“Semua orang punya akal budi dan berpikir, namun tidak semua orang filosof”
Orang banyak kerap berpendapat bahwa filsafat itu bukan ilmu sembarangan karena terkesan rumit, abstrak, mengawang-awang, tidak praktis dan tidak merakyat. Kerap juga orang dalam masyarakat kita menyebut filsafat itu lebih dekat pada klenik, atau berfilsafat sama dengan
pekerjaan paranormal yang tukang meramal segala peristiwa yang akan terjadi. Itulah pendapat awam. Padahal tidak demikian. Mari kita bersihkan ‘filsafat’ dari debu-debu pengertian yang secara tidak sesuai telah mengotorinya. Selanjutnya mari kita memaknainya secara bersih dan benar; baik dari latar belakang sejarahnya, arti kata maupun pengertian dalamoperasionalisasi kegiatannya..Filsafat senantiasa hidup dalam pikiran setiap manusia dalam kegiatan keseharian
Melacak akar kelahiran filsafat, ia tumbuh bersemi pada tahun-tahun 600-an Sebelum Masehi (SM) di negeri Yunani Kuno. Jauh hari sebelum pertumbuhannya,masyarakat Yunani Kuno merupakan masyarakat yang masih mempercayai takhayul dalam bentuk dongeng atau mitologi. Segala bentuk dongeng diterima begitu saja sebagai kebenaran yang tak perlu dibuktikan lagi. Mitos waktu itu telah menjadi semacam iman masyarakat. Bagaimana mitos diciptakan? Realitas ini bisa dijabarkan sebagai berikut:
Mitologi yang lazim dalam bentuk dongeng atau cerita-cerita merupakan cerita yang
direka-reka dari fantasi atau imajinasi manusia. Dongeng ini biasanya berjalan secara tradisional, dilanggengkan secara lisan dan turun-temurun antar generasi. Masih ingatkah kawan ketika Anda masih bocah, di saat malam menjelang bobok ibu kita mendongeng tentang si Kancil, ular Baru Klinting, hikayat Sangkuriang, dsb. Itulah mitologi atau takhayul.
Demikian juga yang terjadi di Yunani. Ibuk-ibuk orang Yunani Kuno juga gemar
mendongeng kepada anak-cucunya tentang berbagai hikayat seperti Herakles, Oedipus,
Pelayaran kaum Argonaut, pengembaraan Odysseus, peperangan Troya, juga cerita tentang dewa-dewi dari langit. Walaupun sistem mitologi Yunani Kuno paling komplit dan sistematis dibanding masyarakat lainnya, namun yang namanya mitologi di mana saja tetap sebuah hikayat penuh fantasi sebagai cara pandang suatu masyarakat terhadap dunia dan alam
semestanya.
Daya cipta masyarakat Yunani Kuno dalam menciptakan mitologi tak lepas dari kondisi
objektif manusia itu sendiri. Mereka memuja langit dengan segala tanda-tandanya, memuja matahari yang memancarkan cahaya dan menimbulkan panas yang memberi hidup, memuja
laut juga gunung-gunung dan bentuk kekuatan alam lainnya. Lama-lama mereka menciptakan bentuk-bentuk seperti manusia kepada benda-benda yang dipujanya dilengkapi sifat-sifat
seperti yang dimiliki manusia dengan kekuatan dan kelemahannya. Keburukan, malapetaka,kebencian, dendam, keadilan, cinta-kasih dan kebajikan ditempelkan pada benda-benda dan dewa-dewi. Hal ini berarti, fantasi manusia dalam penciptaan mitologi dibentuk dan ditentukan oleh alam sekitar dan segala fenomena yang menyertainya.
Sampai pada suatu waktu sekitar 600 tahun SM, sebagian kecil masyarakat Yunani Kuno mulai bosan dan tak puas dengan dongeng-dongeng dalam mitologi tersebut. Maka mulailah
mereka mencari bukan dengan fantasi melainkan akal pikiran (logos). Pada titik inilah dimulainya masa baru dalam pemikiran manusia yakni pemikiran filsafat.
Filsafat itu gabungan dari dua kata dalam bahasa Yunani: philo (kebenaran) dan sofia (cinta).
Filsafat dengan demikian mempunyai arti: cinta pada kebenaran atau kebijaksanaan.
Kebenaran apakah yang pantas dicintai? Kebenaran yang senantiasa dicari dengan akal budi manusia yang mandiri sampai menemukan hakekat kebenaran yang sejati. Orang-orang yang punya akal waras dan sibuk berpikir dalam upaya mencari kebenaran yang sejati itulah yang
disebut dengan ‘filosof’ atau ‘pencari kebenaran’. Seorang yang mencari ada apa di balik tabir rahasia yang terhampar di alam semesta, rahasia di balik tatanan hidup masyarakat, alam pikiran manusia dan persoalan-persoalan hakekat lainnya. Kenapa kebenaran harus dicari?
Sebab kebenaran itu tak ter-beri secara gratis begitu saja, atau sesuatu yang sudah tersedia di hamparan alam semesta sehingga tinggal petik seperti kita memetik buah pepaya dari pohonnya. Dengan demikian, berfilsafat adalah bentuk kegiatan yang menggunakan akal
sebagai perkakas untuk mencari dan menguji suatu kebenaran sampai ke akar-akarnya (radikal), menyeluruh (komprehensif) dan mendalam. Bersama logos inilah yang membedakan diri antara kegiatan berfilsafat dan kegiatan bertakhayul (mitos).
Barang siapa yang tidak memiliki sistem filsafat tertentu bukannya tidak bisa hidup, mereka memang bisa hidup, namun pertanyaannya adalah hidup yang bagaimana? Seorang kawan
menjawab pertanyaan ini dengan penjabaran; orang tersebut memang benar bisa hidup,namun hidup yang senantiasa terombang-ambing oleh keadaan, berjalan dengan meraba-raba kekaburan karena tidak punya tongkat yang kokoh sebagai penuntun jalannya. Dengan demikian, dalam hidupnya kita pastikan Ia akan masuk dalam pengaruh sistem atau paham tertentu. Mereka akan seringkali berujar penuh kepasrahan; “bahwa kesengsaraan dan kemiskinan itu sudah takdir dari Yang Maha Kuasa, sebagai mahluk lemah kita hanya bisa pasrah”.Ini juga satu pilihan seseorang walaupun jatuh dalam kubangan filsafat mistik. Atau kalau tidak demikian, ia akan bersepakat tanpa pikir panjang terhadap suatu sistem/paham yang tengah menguasai alam pikiran mayoritas masyarakat. Ia tidak pernah tahu apakah paham itu benar dan mengandung keadilan atau penuh manipulasi sehingga potensial melahirkan kesadaran palsu dalam diri manusia.
Untuk menyingkap kesadaran palsu, membongkar dan menyerang penipuan yang berkedok di balik paham/ideologi, serta membangun paham pembebasan; inilah guna kita belajar filsafat.

Komentar
Posting Komentar